single-bn

Siap Ikuti Regulasi, Pedagang Thrifting Minta Tidak ada Larangan Impor Baju Bekas

Admin - Selasa, 11 November 2025 06:13 WIB

sejumlah pengunjung mendatangi Bazar Pakaian Bekas di GOR Tawangalun, Banyuwangi , Selasa (11/11/2025)
sejumlah pengunjung mendatangi Bazar Pakaian Bekas di GOR Tawangalun, Banyuwangi , Selasa (11/11/2025)

Banyuwangi | Rencana pemerintah melarang impor pakaian bekas membuat para pelaku usaha thrifting di Banyuwangi resah. Bagi mereka, kebijakan itu bukan sekadar aturan dagang, tapi soal keberlangsungan hidup banyak orang.

Roni Febriansyah, seorang pedagang thrifting sekaligus penyelenggara Bazar Pakaian Bekas di GOR Tawangalun, Banyuwangi mengatakan enomena thrifting bukan sekadar tren anak muda yang gemar tampil unik. Tapi juga peluang ekonomi yang hidup di akar rumput. “Harusnya pemerintah melihat thrifting sebagai peluang, bukan ancaman. Kalau dibilang merugikan UMKM, justru produk impor baru dari Tiongkok itu yang lebih menekan pasar lokal,” ujarnya.

Roni juga tak keberatan jika pemerintah ke depan akan mengatur lebih ketat bisnis thrifting. Termasuk soal pajak bagi barang-barang impor tersebut. Yang terpenting, bukan dilarang sama sekali. “Kami ini mau kok bayar pajak. Bahkan pengin ikut berkontribusi ke negara. Jadi, seharusnya bukan dilarang, tapi diatur supaya jelas,” tambahnya.

Bagi Roni, thrifting bukan cuma soal jual-beli baju bekas. Di balik rak pakaian yang berjejer itu, ada banyak tangan yang bekerja. Mulai penjahit, penyortir, fotografer, sampai content creator. “Ekosistemnya besar. Kalau pelarangan diterapkan, efek domino-nya juga besar. Bisa bikin banyak orang kehilangan penghasilan,” tuturnya.

Dalam setiap event bazar, perputaran uang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Roni menyebut, mayoritas pakaian yang dijual berasal dari Jepang dan Korea. Barang-barang itu dibeli melalui importir, kemudian dijual kembali di berbagai kota di Indonesia.“Produk thrifting punya pasar tersendiri. Setiap bazar, omzet bisa tembus ratusan juta. Artinya, banyak warga yang hidup dari sini,” ujarnya.

Event bazar pakaian bekas di Banyuwangi sendiri sudah dua kali digelar tahun ini. Pada pelaksanaan pertama, Juni lalu, omzet para pedagang menembus ratusan juta rupiah. Di bazar kali ini, ada sekitar 80 pedagang dari berbagai daerah di Pulau Jawa, terbagi dalam tiga kategori: fashion, food and beverage, serta aksesori.“Jadi intinya, kami cuma ingin ada pengaturan yang jelas. Thrifting ini bukan cuma gaya hidup, tapi juga sumber ekonomi bagi banyak orang,” tutup Roni.(RED)

Tag Terkait

Bagikan

Rekomendasi

Terkini

Iklan Kiri
Iklan Kiri