single-bn

Menata Sepak Bola Daerah ; Antara Visi Bersama Misi Pribadi

Admin - Selasa, 25 November 2025 08:41 WIB

IMG-20251125-WA0000

Oleh: Hibbul Hadi,

(Komite Penyelenggara Turnamen Lokal Askab PSSI Banyuwangi)

Menata organisasi sepak bola di tingkat daerah selalu tampak sederhana di atas kertas. Regulasi sudah dibuat, prosedur sudah tertuang, dan struktur sudah ditetapkan. Namun semua itu sering kali hanya berjalan baik di dokumen, tidak dalam praktik. Di lapangan, urusan menata sepak bola justru kerap terasa seperti menata angin: terlihat, tapi sulit digenggam.

Askab PSSI Banyuwangi tengah memasuki periode kepengurusan baru 2025–2029 di bawah Ketua Michael Edy Hariyanto. Saya melihat ada niat serius untuk membawa perubahan. Michael berusaha memastikan seluruh kegiatan—khususnya kompetisi—tertib secara administrasi. Mulai dari perizinan, penyusunan panitia, hingga laporan kegiatan. Hal detail seperti ini sering dianggap sepele, padahal di sinilah fondasi profesionalisme sepak bola daerah seharusnya dibangun.

Lebih penting lagi, untuk kelompok usia pembinaan, Michael berkomitmen agar turnamen dapat digelar gratis atau dengan biaya yang seminim mungkin. Sebuah komitmen yang menurut saya sangat mendasar, karena sepak bola—terutama di jenjang pembinaan—harus tetap menjadi olahraga rakyat. Olahraga yang tidak membatasi mimpi hanya bagi mereka yang punya kemampuan finansial.

Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Tidak semua pihak sepakat dengan gagasan bahwa sepak bola harus murah, rapi, dan mudah diakses. Ada oknum yang memilih berjalan sendiri, menggelar kompetisi tanpa mengikuti prosedur organisasi. Ada juga yang menyelenggarakan turnamen berbiaya tinggi, seolah menjadikan sepak bola sebagai ruang perburuan keuntungan pribadi. Ironisnya, tidak sedikit dari mereka yang juga tercatat sebagai bagian dari kepengurusan.

Di sinilah problem klasik sepak bola daerah kembali muncul: benturan antara visi kolektif dan ambisi personal. Antara semangat membangun sistem dan keinginan memanfaatkan celah. Saya bukan ahli regulasi sepak bola. Tetapi praktisi yang berkecimpung di sepak bola Banyuwangi tentu tahu bahwa saya mengamati perjalanan ini bukan dari kejauhan, melainkan dari dalam gelanggang.

Harapan saya sederhana: sepak bola usia dini dan pembinaan harus menjadi ruang yang murah, mudah, dan terjangkau. Regenerasi pemain tidak akan lahir dari ruang kompetisi yang membebani. Dan jika suatu kompetisi ingin digelar secara komersial, lakukanlah secara profesional tanpa mengorbankan bakat-bakat muda yang baru tumbuh.

Pada akhirnya, saya ingin mengingatkan sesuatu yang mungkin terdengar keras, namun lahir dari keprihatinan yang panjang:

“Kadung sing duwe pegawean hang tetep, kadung sing duwe penghasilan gedhi, ojo dadi pengurus sepak bola. Karuan munduro, daripada nggawe akal-akal gedhi iki. Pengurus kang ora duwe pegawean, melayune gedhi iki myane duwe picis.”

(Kalau tidak punya pekerjaan tetap atau penghasilan memadai, jangan jadi pengurus sepak bola. Lebih baik mundur. Daripada terus menciptakan akal-akalan. Pengurus yang tidak punya pekerjaan akhirnya sibuk mencari kegiatan untuk menghasilkan uang.)

Sepak bola seharusnya ditata dengan hati, bukan dengan hitungan untung rugi. Dan jika kita ingin Banyuwangi melahirkan generasi pesepak bola yang baik, maka organisasi pengelolanya harus lebih dulu menata dirinya sendiri.(*)

Tag Terkait

Bagikan

Rekomendasi

Terkini

Iklan Kiri
Iklan Kiri